Selasa

MAKALAH HUKUM LINGKUNGAN

PENGANTAR HUKUM LINGKUNGAN

BAB I
PENGANTAR ILMU LINGKUNGAN

A PENGERTIAN

a.Pengertian Ekologi


Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Eikos (rumah) dan logos (ilmu). Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Haeckel seorang ahli ilmu hayat dalam pertengahan dasawarsa 1960. secara harfiyah ekologi dapat diartikan ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya.
Menurut Soejarni ekologi adalah: ilmu dasar untuk mempertanyakan, meyelidiki, dan memahami alam bekerja, bagaimana keberdaan makhluk hidup dalam sisteam kaeahidupan, apa yang mereka lakukan dalam habitatnya untuk dapat melangsungkan kehidupannya, bagaimana dengan melakukan semuanya itu dengan komponen lain dan spesies lain, bagaimana individu dalam spesies itu beradaptasi, bagaimna makluk hidup itu menghadapi keterbatasan dan harus toleran tehadapa berbagai perubahan, bagaimana individu – individu dalam spesies itu mengalami pertumbuhan sebagai bagian dari suatu populasi atau komunitas.
Semuanya ini berlangsung dalam suatu proses yang mengikuti tatanan, prinsip, dan ketentuan alam yang rumit, tetapi cukup teratur, Dengan ekologi kita memahaminya. Ekologi juga dapat di artikan sebagai ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme hidup dengan lingkungan hidupnya. Maka ekologi dan ilmu lingkungan merupakan satu kesatuan yang mempunyai hubungan erat antara kedunya.
ilmu lingkungan mepelajari tempat dan peranannya itu, sedangkan ekologi mempelajari susunan serta pungsi seluruh mahluk hidup dan komponen kehidupannya. Ilmu lingkungan dapat di katakana sebagai ilmu ekologi terapan.

b.Pengertian Ekosistem
Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup. Menurut Otto Soemarroto, suatu konsep sentral dalam ekologi iyalah ekosistem, yaitu suatu system ekologi yanga terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makluk hidup dengan lingkunganya.
Salah satu komponen lingkungan hidup yang memegang kunci dalam ekosistem adalah manusia. Peranan manusia dalam ekosistem menurut Moestadji bahwa sebagaimana halnya dengan kehidupan manusia dalam suatu masyarakat, ekosistem juga dikendalikan oleh hukum alam tentang energi yang disebut dengan hukum termodinamika. Ada dua hukum alam tentang energi yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu hukum temodinamika pertama (hukum tentang konservasi energi) dan hukum termodinamika ke dua (bahwa energi yang ada itu tidak seluruhnya dapat dipakai untuk melaksanakan kerja).

c.Lingkungan Hidup Sebagai Sumber Daya
lingkungan hidup merupakan sumber daya, karena lingkungan hidup memenuhi semua unsur yang terdapat dalam isi alam ini. Serta lingkungan sebagai sumber daya merupakan aset yang dapat diperlukan untuk mensejahterakan masyarakat. Hal ini berdasarkan pasal 33 ayat 3 UUD 1945.
Maka pada prinsipnya lingkungan merupakan sumber daya yang di butuhkan keberadanya oleh makluk lainnya, kususnya manusia. Menurut Otto Soemaroto kebutuhan dibagi atas 3 bagian yaitu:
1. Kebutuhan Dasar Untuk Kelangsungan Hidup Hayati
Untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup secara hayati, manusia haruslah mendapatkan air, udara, dan pangan dalam kuantitas dan mutu tertentu.
2. Kebutuhan Dasar Untuk Kelangsungan Hidup Yang Manusiawi
Sifat hidup yang manusiawi itu juga merupakan unsur penting dalam mutu lingkungan. Seperti pangan tidak cukup sekedar memenuhi kebutuhan tubuh, melainkan harus disajikan dalam rasa, warna, dan bentuk yang menarik.
3. Kebutuhan Dasar Untuk Memilih
Kemampuan untuk memilih merupakan sifat hakiki makhluk untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, yaitu baik pada tumbuhan, hewan, dan manusia. Pada manusia kemampuan memilih berkembang melampaui tujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup hayatinya serta merupakan ekspresi kebudayannya.

bersambung ya.......................................

BAB II MASALAH LINGKUNGAN GLOBAL DAN REGIONAL

BAB III

BAB IV HUKUM LINGKUNGAN NASIONAL

BAB V


PENGATAR FIQIH MAWARIS ATAU FAROIDH

1. Pengertian Ilmu Waris Atau Faraidh

Pada dasarnya setiap ciri khas dari suatu ilmu tidak dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya, kecuali defenisi ilmu yang bersangkutan diketahui lebih dahulu. Seseorang akan tertarik dan termotivasi untuk menuntutnya apabila telah mengenal dan mengetahuinya lebih dahulu . menurut hemat penulis ilmu mawaris atu ilmu faraidh ini sangat penting dan merupakan salah satu ilmu terapan dalam syria’ah islam. Dan sangat sedikit umat muslim yang menguasai ilmu mawaris ini. Dan makalah ini dikutip dari beberapa buku diantaranya adalah HUKUM WARIS, FIQIH MAWARiS, dan kawan-kawanya.

Ilmu faraidh atau fiqih mawaris memiliki tiga unsur didalamnya:

1. Pengetahuaan tentang kerabat-kerabat atu keluarga yang menjadi ahli waris
2. Pengetahuaan tentang bagian yang menjadi hak atau bagian ahli waris
3. Pengetahuaan tetang cara menghitung harta waris

Kata waris berasal dari bahasa arab yaitu miras yang bentuk jamaknya adalah mawaris . yang artinya harta peningalan orang yang meninggal yang akan dibagikan kepada ali warisnya. Dan ilmu waris juga akrab disebut dengan ilmu faraidh yang dimaksud dengan ilmu faraidh adalah masalah masalah pembagian harta waris. Faraidh juga bersal dari bahasa arab merupakan asal kata dari paradha, fardun. Faraidh merupakan jamak dari faridatun yang artinya sesuatu yang di wajibkan. Yakni pembagian yang telah ditentukan kadarnya.

Secara etimologis, kata al-faraidh memiliki beberapa arti diantaranya yaitu :

1. Al-qath yang berarti keteeapan dan kepastian. Seperti yang dungkapkan dalm firman Allah dalam surat Annisa’ ayat 7… sebagai suatu bagian yang telah ditetapkan…… (An-nisaa, 7)

2. At-Taqdir yang berarti suatu ketentuan, seperti Firman Allah …….. kaarena itu, bayarlah separuh dari (jumlah) yang telah kau tentukan itu………(Al-baqarah 237).

3. Al-atha yang berarti suatu pemberian seperti pepatah bangsa arab yang berbunyi la ashabtu minhu fardhan wa la qarthan ai athaan. (aku tidak mendapatkan atau pemberiaan atau pinjaman darinya) kata faradhan dalam ungkapan tersebut berarti pinjaman.

Arti-arti diatas dapat digunakan seluruhnya karena ilmu faraidh meliputi beberapa bagian kepemilikan yang telah ditentukan ssecara tepat dan pasti. Dan penjelasan Allah Swt, tentang setiap ahli waris yang menerima bagiannya masing-masing semuanya merujuk pada sebutan atau penamaan Ilmu Faraidh.

Secara terminologis, ilmu faraidh memiliki beberapa definisi sebagai berikut:

1. Penetapan kadar warisan bagi ahli waris berdasarkan ketentuann syara’ yang tidak bertambah, kecuali dengan radd (mengembalikan sisa lebih kepada penerima warisan) dan tidak berkurang, kecuali dengan Aul (pembabagian harta waris, dimana jumlah bagiaan para ahli waris lebih besar daripada asal masalahnya, sehingga harus dinaikkan menjadi sebesar jumlah bagian-bagia itu).

2. Pengetahuaan tentang pembagiaan harta waris dan tata cara menghitung yang terkait dengan pembagiaan harta waris dan pengetahuaan tentang bagian yang wajib dari harta peningalan untuk setiap pemilik hak waris.

3. Disebut juga dengan Fiqih Al-mawaris, fiqih tentang waris dan tata cara menghitung harta waris yang ditinggalkan.

4. Kaidah-kaidah fiqih dan cara menghitung untuk mengetahui bagian setiap ahli waris dari harta peninggalan. Maksudnya yakni batasan-batasan dan kaidah-kaidah yang berkaitan erat dengan kaidah ahli waris seperti, ash-habul furudh, dzawi al-arham, ashabah, dan hal hal-hal yang erat hubungannya dengan cara menyelesaikan pembagiaan harta waris, berupa hijab, aul, raad, dan yang terhalang mendapatkan waris.

5. Ilmu yang digunkan untuk mengetahui ahli waris yang dapat mewarisi dan juga yang tidak dapat diwarisi serta mengetahui kadar setiap bagiaan ahli waris.

Menurut Hasbi Ash-shiddieqy dalam bukunya fiqih mawaris mengatakan ilmu faradh adalah:
Ilmu untuk mengetahui orang-orang yang berhak menerima pusaka dan orang-orang yang tidak dapat menerima pusaka (harta warisan), serta kadar yang diterima oleh setiap ahli waris dan cara pembagiaanya. Atau dengan redaksi lain mengatakan beberapa kaidah yang terpetik dari fiqih dan hisab untuk mengetahui secara khusus mengenai segala yang mempunyai hak terhadap peninggalan simati dan pembagian ahli waris dari harta peningalan tersebut.



Comments :

0 komentar to “MAKALAH HUKUM LINGKUNGAN”

Poskan Komentar

 

Copyright © 2009 by ONE4ALL BLOG